Setiap lembaga pendidikan bertumbuh melalui kontribusi para pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun karakter, budaya kerja, dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat itulah yang tergambar dalam acara pelepasan purna bakti Margareta Eni, S.Ag, guru Agama Katolik SMKN 1 Labuan Bajo, yang digelar pada Rabu (17/06/2026).
Acara tersebut bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan bentuk penghargaan atas pengabdian seorang pendidik yang telah mengabdikan dirinya selama 29 tahun di SMKN 1 Labuan Bajo. Sejak bergabung pada tahun 1997, Margareta Eni turut menyaksikan sekaligus berkontribusi dalam perkembangan sekolah dari masa awal berdiri hingga menjadi salah satu lembaga pendidikan vokasi tertua di Kabupaten Manggarai Barat.
Dalam sambutannya, Margareta Eni mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilaluinya sebagai seorang guru.
“Puji dan syukur kepada Tuhan atas rahmat dan kasih-Nya yang telah diberikan kepada kita semua. Kita sebagai guru bangga karena memiliki Guru yang sangat hebat untuk kita ikuti teladan-Nya, yaitu Yesus,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan pengabdian selama hampir tiga dekade telah menghadirkan banyak pengalaman berharga yang menjadi bagian dari proses pembelajaran hidup.
“Kenangan yang manis akan saya ingat sepanjang hidup, sedangkan kenangan yang pahit saya lupakan dan saya kuburkan hari ini juga, supaya tidak terus dibawa karena itu menyakitkan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga besar sekolah atas segala kekurangan selama menjalankan tugas sebagai pendidik.
“Selama 29 tahun saya mengabdi di sekolah ini, tentu sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kesalahan. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dan kesalahan saya selama ini,” tuturnya.
Sikap reflektif dan kerendahan hati itu menjadi bagian dari pesan moral yang disampaikannya menjelang akhir masa pengabdian.
“Hari ini juga saya sudah memaafkan semuanya dengan tulus dan ikhlas. Saya tidak ingin membawa pulang rasa sakit hati itu. Hari ini semuanya saya kubur dalam-dalam dan saya tinggalkan di sini,” ungkapnya.
Mengakhiri sambutannya, Margareta Eni mengajak para guru untuk terus menjaga semangat pengabdian dan memperkuat budaya kolaborasi dalam lingkungan sekolah.
“Tetaplah semangat dan tulus dalam membimbing anak-anak didik kita. Pertahankan rasa kekeluargaan, saling melengkapi satu sama lain jika ada kekurangan, dan selalu jaga kekompakan sekolah,” pesannya.
Mantan Kepala SMKN 1 Labuan Bajo periode 2011–2021, Stefanus Satu, S.Pd, yang akrab disapa Pak Stef, menilai bahwa Margareta Eni merupakan bagian dari generasi perintis yang telah meletakkan fondasi penting bagi perkembangan SMKN 1 Labuan Bajo.
“Ibu Eni ini termasuk generasi pertama atau perintis sekolah ini. Kita bersyukur karena guru-guru yang menjadi perintis sejak sekolah ini berdiri masih ada, dan salah satunya adalah Ibu Eni,” ujar Pak Stef
Menurutnya, peran seorang guru tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari karakter dan keteladanan yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ibu Eni tidak hanya mengemban tugas sebagai guru agama, tetapi memang karakternya adalah pemaaf dan pengampun. Ketika ada persoalan, beliau selalu memberikan jalan keluar sebagai solusi,” katanya.
Pak Stef juga menyoroti konsistensi dan tanggung jawab Margareta Eni selama menjalankan tugas sebagai pendidik.
“Kalaupun beliau tidak hadir di kelas, itu karena sakit. Namun tetap menginformasikan kepada wali kelas atau pihak terkait. Ini adalah prosedur yang harus kita ikuti bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang diwariskan oleh Margareta Eni merupakan modal sosial yang penting bagi keberlanjutan budaya sekolah.
“Apa yang ditunjukkan oleh Ibu Eni harus menjadi warisan bagi kita semua. Terima kasih karena telah meninggalkan teladan terbaik untuk kami,” tutupnya.
Apresiasi serupa disampaikan Viktoria Timung Wulang, S.Pd, yang akrab disapa Ibu Tory, Kepala SMKN 1 Labuan Bajo. Menurutnya, purna bakti seorang guru tidak hanya menandai berakhirnya masa tugas, tetapi juga menjadi momentum untuk menghargai kontribusi yang telah diberikan selama bertahun-tahun.
“Hari ini adalah hari yang penuh dinamika rasa. Ada rasa bangga, tetapi juga rasa haru yang mendalam karena kita melepas seorang guru dan perintis yang telah mendedikasikan hidupnya selama 29 tahun di SMK Negeri 1 Labuan Bajo,” ujar Ibu Tory.
Ia menilai Margareta Eni sebagai figur yang mampu mengintegrasikan kompetensi profesional dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik pendidikan sehari-hari.
“Selama saya memimpin di sini, saya tidak pernah melihat Ibu Eni marah. Beliau adalah perwujudan nyata seorang guru agama sejati,” katanya.
Menurut Ibu Tory, keberadaan Margareta Eni selama ini turut membentuk iklim sekolah yang harmonis dan humanis.
“Ketika ada persoalan di antara guru maupun siswa, Ibu Eni selalu hadir bukan sebagai penambah masalah, melainkan sebagai penasihat rohani yang membawa kedamaian dan solusi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kontribusi Margareta Eni telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan sekolah.
“Jasa-jasa, pengabdian tanpa pamrih, dan fondasi yang telah Ibu tanamkan di lembaga ini tidak akan pernah dilupakan. Sekolah ini berutang budi pada ketulusan hati Ibu,” tegasnya.
Acara pelepasan purna bakti ditutup dengan lagu rohani berjudul "Hidup Ini Adalah Kesempatan'' yang dibawakan oleh Ibu Eni dan pemberian penghargaan.
Purna bakti Margareta Eni juga menjadi bagian dari proses regenerasi sumber daya manusia di SMKN 1 Labuan Bajo. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sejumlah guru senior telah menyelesaikan masa tugasnya, yakni Agustinus Rosmin, S.Par pada 26 Agustus 2025, Syprianus Phiton, S.Pd pada 1 Desember 2025, Wilhelmus Jepapu pada 1 Juli 2025 dan Dra. Aben Korona Saina Saden Maria pada 1 Juni 2026.
Fenomena purna bakti mencerminkan dinamika regenerasi dalam dunia pendidikan. Pergantian generasi merupakan proses yang alamiah, namun nilai-nilai yang diwariskan para guru senior menjadi aset penting dalam menjaga keberlanjutan mutu pendidikan. Pengalaman, etos kerja, integritas, dan kepedulian sosial yang mereka tunjukkan selama masa pengabdian menjadi fondasi yang dapat diteruskan oleh generasi pendidik berikutnya.
Penulis: Paulus Jehamat, S.Pd Editor: Paulus Jehamat, S.Pd
0 Komentar
Belum ada komentar.