SMKN 1 Labuan Bajo Gelar Visitasi Akreditasi: Momentum Refleksi dan Pembenahan Berkelanjutan

BERITA SMKN 1 LABUAN BAJO NTT- SMKN 1 Labuan Bajo menyelenggarakan visitasi akreditasi selama dua hari, Senin–Selasa, 17–18 November 2025. Dua asesor BAN PDM Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Marianus Mantovany Tapung, S.Fil., M.Pd. (asesor 1) dan Lana Sugiarti, M.Pd. (asesor 2) hadir dan diterima secara adat Manggarai 'tuak kapu' oleh Bpk. Donatus Jerhaman,  tokoh adat SMKN 1 Labuan Bajo. Keduanya merupakan dosen Unika Santu Paulus Ruteng–Flores.

 

Kegiatan visitasi akreditasi dibuka secara resmi oleh pengawas pembina SMKN 1 Labuan Bajo, Bapak Florianus Sudirman, S.Pd. Selain tim asesor, pengawas pembina dan kepala sekolah, kegiatan juga dihadiri oleh Ketua Komite SMKN 1 Labuan Bajo, Bapak Drs. Yeremias Unggas, delegasi dari DUDI (dunia usaha dan dunia industri), delegasi alumni, serta GTK SMKN 1 Labuan Bajo.

 

Maximus Diamat, S.Tr.Par  (akrab disapa Pak Max) didapuk sebagai master of ceremony. Ia membacakan agenda hari pertama visitasi, meliputi penerimaan tim akreditasi secara Budaya, Lagu Indonesia Raya, Doa Pembukaan, Sambutan Kepala Sekolah, Sambutan Tim BAN PDM NTT, Observasi Pembelajaran, Wawancara dengan mitra DUDIKA (dunia usaha, industri, dan kerja), orang tua murid dan alumni, wawancara dengan GTK dan murid, serta pemeriksaan dokumen akreditasi.  Agenda hari kedua difokuskan pada survei lingkungan.

 

Kepala SMKN 1 Labuan Bajo, Viktoria Timung Wulang, S.Pd, akrab disapa Ibu Tory menegaskan akreditasi sebagai momentum pembinaan, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.

 “Atas nama satuan pendidikan, atas nama keluarga besar SMKN 1 Labuan Bajo, kami mengucapkan selamat datang di SMKN 1 Labuan Bajo dan terima kasih kepada Bapak Ibu tim asesor yang bersedia melaksanakan tugas dalam rangka visitasi akreditasi di SMKN 1 Labuan Bajo,” ujarnya.

Ia menekankan perubahan cara pandang.

 “Kami memandang kegiatan ini bukan kegiatan yang menakutkan, ini adalah proses pembinaan, proses evaluasi, dan proses perbaikan yang memastikan sekolah kami memenuhi standar nasional pendidikan,” kata Ibu Tory.

  

Soal kelengkapan dokumen, ia menyampaikan kesiapan sembari membuka ruang perbaikan.


 “Kami sudah menyiapkan dokumen. Kami yakin sudah menyiapkan dengan sesempurna mungkin, tetapi kami rasa masih banyak yang perlu perbaikan. Untuk itu, kami harapkan Bapak Ibu asesor dapat memberi kontribusi bagi sekolah kami untuk perbaikan selanjutnya.” pintanya.

 

Pengawas pembina, Florianus Sudirman, S.Pd. (akrab disapa Pak Flori) mengingatkan akreditasi sebagai penilaian independen yang harus ditopang data dan praktik nyata.

Ia mengutip kaidah lama akreditasi: “Kerjakan apa yang Anda sudah catat dan catat semua apa yang Anda sudah kerjakan.”

Menegaskan siklus penjaminan mutu internal dan eksternal pak Flori menyampaikan sekolah kita perlu dinilai, baik penilaian internal maupun eksternal. Penilaian internal biasanya melalui Rapor Pendidikan maupun EDS. "Hari ini, yang berlangsung adalah penilaian eksternal melalui pola akreditasi sekolah,” ujarnya. 

Menjelaskan tentang BAN PDM pak Flori menyampaikan bahwa Badan Akreditasi Nasional adalah badan independen yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun. 

"Bapak dan Ibu asesor melaksanakan visitasi secara independen. Harapannya, apa yang ditulis dari kepala sekolah sampai para guru, sudah dilakukan; kalau sudah dilakukan, berarti ada buktinya.” harap mantan kepala SMKN 1 Labuan Bajo (periode 2007-2011)  itu.

Pengalaman visitasi akreditasi SMKN 1 Labuan Bajo tahun 2019, Pak Flori menyampaikan hasilnya.

“Akhir hasil akreditasi tahun 2019, sekolah kita untuk lima program keahlian mendapat predikat A. Satu yang belum predikat A, yaitu program keahlian Akuntansi Keuangan dan Keuangan Lembaga. Yang sudah dapat predikat A, jangan turun lagi.” pintanya

Dr. Marianus Mantovany Tapung, akrab disapa Pak Manto menyampaikan apresiasi atas penerimaan adat dan menegaskan makna visitasi.

"Pertama, saya ucapkan terima kasih untuk penerimaan secara adat. Kami mau menyatakan bahwa kami sudah menjadi anggota dari rumah besar SMKN 1 Labuan Bajo,” kata Pak Manto.

“Kami hadir sebagai mitra Bapak–Ibu. Ada beberapa tamatan dari sini yang juga adalah mahasiswa kami.”

Menurutnya, akreditasi bukan sekadar penilaian administratif.

“Akreditasi itu menjadi momentum refleksi, memaklumi apa yang sudah kita lakukan pada masa lalu, melihat apa yang terjadi di masa kini, dan membawa sesuatu lebih baik pada masa yang akan datang,” ujarnya.

Mengutip Socrates, ia menambahkan, “Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak untuk dipertahankan pada masa yang akan datang.”

Dengan sekitar 1.651 siswa, 89 guru, dan 17 tenaga kependidikan, Pak Manto mengajak seluruh komponen sekolah membangun kesadaran kolektif serta multikultural.

“Kita memang berbeda-beda, tapi untuk membangun rumah besar pendidikan ini harus muncul dari kesadaran besar. Kita jangan sampai ada di tempat tidur yang sama tapi mimpi berbeda. Sebaiknya, meskipun kita di tempat tidur yang berbeda, mimpi kita sama,” pesannya.

Pak Manto menyoroti tantangan link and match SMK dengan dunia kerja di Labuan Bajo yang berstatus destinasi pariwisata super premium. Ia menyebut, hampir 70% lulusan SMK se-Manggarai Raya belum terserap kerja, sementara sekitar 80% tenaga teknis di Labuan Bajo berasal dari luar daerah.

“Bukan soal kekurangan pengetahuan atau keterampilan, tetapi lebih pada edukasi karakter, disiplin waktu, tanggung jawab, penghargaan terhadap sesama” kata dia. 

 “Kebutuhan tenaga kerja tinggi, namun kesiapan karakter lulusan lokal masih perlu diperkuat.”

Mengutip hasil kajian bersama Dinas PKO 2023–2024, Pak Manto memaparkan indikator kompetensi guru di Manggarai Barat yang dinilai masih rendah pada sejumlah aspek: investasi guru (51%), kemampuan ‘menolak uji’ (33,4%), resiliensi (32,49%), sikap terhadap profesi (31,8%), dan stabilitas emosi (9,24%).

“Kemampuan mengelola konflik dan resiliensi masih rendah. Sikap terhadap profesi cenderung menurun saat status sudah mapan. Inilah data yang harus kita pakai, bukan sekadar kita pajang,” tegasnya.

Agar akreditasi tak berhenti pada dokumen, Pak Manto menekankan perubahan pola pikir.

 “Kalau fixed mindset, kami akan menilai apa yang tertera di teks. Kalau growth mindset, kami melihat apa yang ada di teks sekaligus bagaimana sekolah membangun masa depan,” jelasnya.

“Setelah kami lihat, standar sekolah ini sudah melampaui standar yang ada. Kita tepuk tangan dulu,” ujarnya seraya mengingatkan agar standar tidak menurun.

Selain itu, ia mendorong paradigma berbasis aset.

 “Aset kita adalah manusia, persekutuan yang ada, dukungan alumni, dukungan sosial, serta dunia usaha dan dunia kerja. Jangan bicara berbasis defisit; itu paradigma baru, dari defisit base ke asset base, dengan memberi makna yang lebih penting, membangun sesuatu yang lebih baik bagi masyarakat,” tuturnya.

Dalam sesi refleksi hari kedua, Pak Manto mendorong perubahan paradigma dari kompetisi ke kolaborasi.

“Red ocean strategy sudah bukan zamannya. Yang ada sekarang adalah blue ocean strategy, bertarung di ‘laut lepas’ dengan inovasi, kreativitas, produktivitas, dan jejaring. Tidak melihat orang lain sebagai lawan, tetapi teman untuk bekerja,” ucapnya.

“Tak ada yang berhasil sendirian. Kita butuh kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan kreatif.”

Ia juga menyinggung keterlibatannya dalam penyusunan roadmap pendidikan daerah.

“Saya dipercayakan menyusun roadmap pendidikan Manggarai Barat 2020–2025 dan keterlibatan rencana Labuan Bajo 2025–2030. Jika bonus demografi dan status pariwisata super prioritas tidak diantisipasi, 20 tahun ke depan kita bisa mengalami ‘demographic disaster’, penduduk banyak tetapi tidak kompetitif,” paparnya.

Terkait hasil akreditasi, Pak Manto menyampaikan optimisme disertai catatan kelengkapan bukti.

"Kami optimis sekolah ini bisa A. Namun setelah kami, masih ada proses validasi di level lebih tinggi. Mohon dukungan untuk melengkapi dokumen dan ‘link’ bukti sesuai tagihan instrumen. Tugas kami menarasikan; tugas sekolah memberi bukti hukum atas narasi itu agar tidak terbantahkan di tahap validasi,” tandasnya.

Menanggapi rangkaian refleksi dari tim asesor, kepsek Tory menegaskan komitmen pembenahan pascavisitasi.

“Kami sangat berterima kasih atas apa yang menjadi refleksi hari ini dari tim asesor. Ini menjadi bahan perbaikan yang kuat bagi sekolah ini” pungkasnya.

PAJE/PAULUS JEHAMAT

0 Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Inputan yang harus diisi ditandai *