Inovasi Tanpa Sekat: IGDX Career Ajak Siswa SMKN Labuan Bajo Lihat Masa Depan Industri Game

BERITA SMKN 1 LABUAN BAJO-Kamis (27/11/2025), SMKN 1 Labuan Bajo menggelar kegiatan "IGDX Career Goes to SMKN 1 Labuan Bajo" yang berpusat di Aula Gedung Serba Guna sekolah. Kegiatan dimulai pukul 13.00 WITA hingga selesai, dihadiri tim dari Indonesia Game Developer Exchange (IGDX): Rizki Cesira Wardhani, Mahesy Gladis Pramesti, Fuazan Annajwa Kartanegara, dan Ibnu Qayyim Abdul Karim Alfath.

Dari pihak sekolah, hadir Wakasek Humas, Bapak Karolus Nisa, S.Pd. (Pak Karel), Ketua Program PPLG, Bapak Yohanes D. Salim, S.Kom, Sekretaris Program PPLG, Bapak Engelbertus Hendro, S.Kom, para guru PPLG, Bapak Rudi Hasanuddin, S.Kom, dan Marselinus Berardus, S.Kom, serta seluruh peserta didik kelas X dan XI PPLG SMKN 1 Labuan Bajo.

 Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) yang bertujuan mendukung dan memajukan ekosistem industri game lokal di Indonesia.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakasek Humas, Karolus Nisa, S.Pd., akrab disapa Pak Karel. Dalam sambutannya, ia menegaskan dukungan penuh sekolah terhadap program IGDX dan Komdigi.

“Tentu dari pihak sekolah, kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan yang diselenggarakan oleh Komdigi melalui IGDX Career ini. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi kami, terutama para peserta didik, untuk mendapatkan wawasan langsung dari industri,” ujar Pak Karel.

Sebagai guru matematika yang sehari-hari mendampingi siswa di kelas, Pak Karel menekankan pentingnya adaptasi di era digital.

“Di era digitalisasi saat ini, kita tidak boleh berjalan di tempat. Kita harus beradaptasi dengan perkembangan dunia yang begitu cepat. Karena itu, sekolah harus mempersiapkan SDM yang bagus dan mumpuni agar mampu bersaing dengan perkembangan zaman,” jelasnya.

Kepada para siswa, ia menitipkan pesan khusus tentang fokus dan kompetensi.

“Harapan saya, siswa-siswi sekalian bisa fokus, menyimak dengan baik, dan berani bertanya. Jangan berpikir bahwa dunia ini ada sekat-sekatnya. Siapa saja yang punya kompetensi, dia akan mampu bersaing. Manfaatkan momen ini untuk menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan kalian,” pesannya.

Menutup sambutan, Pak Karel menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan hadiah berharga bagi sekolah.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperluas wawasan, baik dari sisi pengetahuan maupun keterampilan teknis. Anggaplah ini sebagai kado istimewa bagi sekolah, di mana kita diajak untuk melihat bahwa peluang di dunia industri kreatif, khususnya pengembangan game, itu sangat terbuka lebar tanpa batas,” tutupnya.

Sesi materi kemudian dipandu oleh Rizki Cesira Wardhani, akrab disapa Cesira. Ia menjelaskan posisi IGDX sebagai bagian dari program Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) yang didukung pemerintah untuk mengembangkan ekosistem industri game nasional. Melalui pemaparannya, Cesira menyampaikan bahwa berdasarkan Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2024, terdapat tujuh program utama untuk mendukung pengembangan industri game nasional. Program-program tersebut mencakup pengembangan sumber daya manusia, akses terhadap pendanaan, promosi dan perluasan akses pasar bagi game nasional, peningkatan infrastruktur teknologi, dukungan regulasi dan hukum, pengembangan industri perangkat keras, serta aktivasi game nasional di pasar global. Semua inisiatif ini menjadi payung besar yang menghubungkan dunia pendidikan, komunitas, dan industri.

Pemateri utama dalam kegiatan ini adalah Ibnu Qayyim Abdul Karim Alfath, akrab disapa Pak Ibnu, Founder & CEO GINVO Studio Game Developer dengan pengalaman lebih dari sepuluh tahun di industri game. Ginvo Studio, perusahaan pengembang game asal Bogor, telah aktif sejak tahun 2015 dan telah mengerjakan lebih dari lima puluh proyek game. Dalam pemaparannya, Ibnu memperkenalkan IGDX sebagai ajang tahunan yang berfokus memperkuat industri game di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa IGDX memiliki beberapa program utama yang saling melengkapi. Ada program bootcamp sebagai inkubasi bagi studio game baru untuk mengembangkan produk dan membangun tim. Ada pula program academy yang berfokus pada pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan teknis maupun bisnis. Kemudian, IGDX Career hadir sebagai portal karier khusus industri game di Indonesia. Di sisi lain, IGDX Business menjadi ajang pertemuan bisnis antara developer dan pemangku kepentingan industri, sementara IGDX Conference menjadi forum diskusi dan berbagi wawasan dari para ahli industri game.

Ibnu juga menceritakan perjalanan Ginvo Studio yang berhasil meluncurkan game komersial pertama mereka sebagai tonggak awal perjalanan profesional di industri ini. Setelah itu, mereka terus berkembang dan mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai program seperti Indigo Game Startup Incubation dan IGDX Academy, yang membantu meningkatkan kemampuan tim dan memperluas jaringan profesional.

Untuk menggambarkan besarnya potensi industri game, Ibnu menyajikan perbandingan yang membuka mata para peserta. Ia menjelaskan bahwa secara global, pendapatan industri game telah melampaui industri film dan musik. Salah satu contoh yang ditampilkan adalah film Avengers: Endgame dengan biaya produksi sekitar 356 juta dolar Amerika dan pendapatan sekitar 2,8 miliar dolar Amerika. Di sisi lain, game Grand Theft Auto V (GTA V) memiliki biaya produksi sekitar 275 juta dolar Amerika tetapi mampu meraup pendapatan sekitar 9,3 miliar dolar Amerika. Perbandingan ini menunjukkan bahwa game merupakan salah satu produk hiburan paling menguntungkan di dunia.

Tema besar sesi Ginvo Studio yang diusung Ibnu adalah “Passion Meets Profession yaitu Mengubah Hobi Menjadi Karir.” Melalui tema ini, Ibnu menegaskan bahwa industri game memberikan kesempatan bagi siapa pun yang punya minat dan kemampuan untuk berkarya, baik sebagai seniman, programmer, desainer, maupun manajer proyek.

Di hadapan siswa-siswi PPLG, Ibnu menjelaskan berbagai peran penting dalam pengembangan game. Ia menyebut adanya peran seperti game designer, game producer, game artist, game programmer, sound engineer, game tester, dan level designer. Setiap peran memiliki kontribusi penting, mulai dari merancang alur permainan, mengelola produksi, menciptakan visual, menulis kode, hingga menguji kualitas game sebelum dirilis.

Ibnu juga memaparkan berbagai peluang kreatif dan finansial di industri game. Dari sisi kreatif, industri ini memberi kesempatan untuk menciptakan produk yang dapat dimainkan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Dari sisi finansial, ia menggambarkan konsep “banyak jalan menuju cuan”, dengan berbagai sumber pendapatan yang bisa diperoleh dari penjualan game, iklan, maupun layanan pengembangan untuk pihak lain.

Dalam penjelasannya, Ibnu menguraikan dua model bisnis utama di industri game. Model pertama adalah entertainment game, yakni pengembangan game yang menghasilkan pendapatan dari royalti penjualan, iklan, dan in-app purchase. Model kedua adalah services atau outsourcing, yang mencakup jasa pembuatan aset, porting, dan pengembangan game untuk klien atau mitra lain.

Ia juga mengangkat konsep “borderless market, borderless office”, yang menggambarkan bahwa pengembang game dapat bekerja dari mana saja, termasuk dari kota-kota seperti Labuan Bajo, dan tetap mempublikasikan karya mereka untuk pasar global tanpa dibatasi jarak geografis.

Kepada para peserta yang tertarik terjun ke industri game, Ibnu merangkum beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan sejak bangku SMK. Ia mengajak siswa untuk mengasah keahlian dengan mempelajari dasar-dasar pemrograman, desain, ataupun seni digital. Ia juga mendorong mereka untuk mulai membangun portofolio melalui proyek kecil atau prototipe game sebagai bukti kemampuan.

Selain itu, Ibnu menyarankan siswa untuk bergabung dengan komunitas developer agar bisa berbagi ilmu dan membangun jaringan, serta mencari mentor yang sudah berpengalaman di industri. Ia menekankan pentingnya mental pantang menyerah dengan mengingatkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar dan pengembangan diri.

Melalui portal IGDX Career, peserta didik dapat membuat akun, mengunggah portofolio, dan melamar berbagai posisi yang tersedia di industri game. Posisi tersebut antara lain game programmer, 2D/3D artist, UI/UX designer, project manager, QA intern, dan banyak peran lainnya yang mendukung keseluruhan ekosistem pengembangan game.

Setelah pemaparan materi dari Pak Ibnu, sesi dilanjutkan dengan tanya jawab. Siswa-siswi PPLG tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar teknis pembuatan game, peluang magang, hingga cara membangun studio kecil sendiri. Suasana aula terasa hidup, dengan tangan-tangan terangkat dan rasa ingin tahu yang mengalir dari bangku-bangku peserta.

Salah satu siswa, Rehann, menyampaikan kesan dan harapannya di akhir kegiatan. Ia merasa sangat terbantu dan termotivasi dengan kehadiran tim IGDX di sekolah. Dalam refleksinya, Rehann menyampaikan rasa senang dan terima kasih atas kegiatan yang diselenggarakan oleh tim IGDX, dan berharap suatu saat nanti ia dan teman-temannya dapat bergabung dengan tim IGDX serta meraih masadepan di industri game.

PAJE/PAULUS JEHAMAT 

0 Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Inputan yang harus diisi ditandai *