Neraca Cinta di Atas Bukit Sylvia | SMKN 1 Labuan Bajo
Berita Sekolah

Neraca Cinta di Atas Bukit Sylvia

Informasi resmi dan kegiatan terbaru SMKN 1 Labuan Bajo.

Neraca Cinta di Atas Bukit Sylvia

Neraca Cinta di Atas Bukit Sylvia

Neraca Cinta di Atas Bukit Sylvia

Oleh: Stefanus Satu, S.Pd

 

Siswa SMKN 1 Labuan Bajo, semua  tahu dua hal: anak Akuntansi paling rapi dalam berpakaian termasuk juga catatan pelajaran, dan anak Perhotelan paling rapi senyumnya. Chelsy, adalah siswi kelas XII Akuntansi, yang catatan dan pengerjaan tugas Jurnal dan Neracaya rapi dan tidak pernah ada coretan. Teman teman termasuk guru Program Akuntansi mengakui hal itu. Targetnya jelas: lulus, dapat beasiswa Politeknik Negeri di Bali, dan bantu ibunya yang buka warung di Kampung Ujung, Labuan Bajo.

Jhoni, adalah siswa kelas XII Perhotelan. Ia jago table manner, fasih bahasa Inggris, murah senyum tapi nilai Matematika Bisnisnya selalu di ujung tanduk. Cita-citanya jelas,  ia ingin jadi Hotel Manager, dengan kelas bintang empat yang berdiri megah menghadap laut Labuan Bajo.

Jhoni berasal dari Pacar, sedang Chelsy berasal dari Kempo. Pertemanan mereka berawal saat MPLS. Pertemanan itu terus mereka bina sampai di kelas XII. Mereka dating dan pulang sekolah bersama. Berbagi suka dan duka dalam menggapai cita-cita. Bahkan saling membantu mengerjakan tugas yang diberikan guru. 

Pada hari itu di saat guru- guru mengikuti rapat, mereka dua bertemu tanpa janji. Mereka bertemu bukan di kantin, tapi di perpustakaan sekolah. Chelsy sudah berada di perpustakaan setengah jam, waktu Jhoni datang. Jhoni mengambil tempat duduk pas di hadapan Chelsy. Jhoni menatap Chelsy sembari menghidangkan senyum khasnya yang menggetarkan hati. Jhoni membuka percakapan dengan nada frustrasi karena sulitnya soal yang diberikan ibu guru.

 "Chelsy, ajarin aku dong. Kenapa laporan laba rugi ku malah jadi laporan laba nangis?" Chelsy yang sedang merekap laporan keuangan fiktif untuk lomba LKS menghela napas, berdiri lalu duduk di sebelahnya.

“Karena kamu ngitungnya sambil ngafal welcome drink. Nih, lihat. Debit kredit itu kayak pelayanan di hotel. Harus belens. Tamu datang, dan tamu pergi itu tamu yang dilayani. Kalau tidak dilayani berarti tidak seimbang, kacau semua.”

Sejak hari itu, mereka membuat jadwal belajar bersama. Pulang sekolah, di teras belakang Starbuck Labuan Bajo yang menghadap ke  pelabuhan Marina, mereka duduk belajar berdua. Chelsy mengajari Jhoni menyusun Laporan Keuangan. Sebagai gantinya, Jhoni mengajari Chelsy Public Speaking  modal yang wajib kuasai  kalau nanti  Chelsy  harus presentasi di depan juri lomba. "Kamu kalau presentasi jangan nunduk terus lihat buku. Anggap juri itu tamu hotel. Tatap, senyum, sapa," kata Jhoni.

Awalnya  Chelsy  malu. Lama-lama, suaranya lantang. Kepercayaan dirinya naik, dan berakhir dengan hasil yang memukau. Sebaliknya, Jhoni yang dulu takut angka, mulai paham. Untuk pertama kalinya, nilai ujiannya di atas KKM. Ia menempelkan hasil ujiannya di loker Chelsy  dengan tulisan: Terima kasih, Bu Manager Keuangan ku.

Pada bulan Desember 2025 setelah ujian semester, SMKN 1 Labuan Bajo menyelenggarakan  LKS tingkat sekolah. Masing-masing Program Keahlian mempersiapkan siswa sebagai peserta LKS.Jhoni dan Chelsy terpilih sebagai peserta LKS oleh masing-masing program. Mereka berdua pun senang karena terpilih sebagai peserta. Jhoni dan Chelsy mempersiapkan diri dengan baik. Mereka mengikuti bimbingan belajar yang dijadwal guru program. Mengerjakan tugas yang diberikan. Berdiskusi dan bertanya jawab materi yang dilombakan. 

 Malam sebelum lomba, keduanya duduk di Bukit Sylvia. Mereka menikmati udara laut yang dingin tapi menyegarkan. Menyegarkan pikiran keduanya yang terbebani dengan berbagai kesibukan mempersiapkan diri menghadapi LKS. Mereka melihat lampu-lampu kapal yang bekelap kelip bagai kunang-kunang di kejauhan di atas laut.

"Aku takut, Jhon. Kalau aku gagal, beasiswa ku gagal," kata Chelsy pelan.

Jhoni menjawab, “Aku juga takut. Tapi ingat yang kamu bilang? Sesuatu yang tidak seimbang pasti kacau. Hidup kita juga. Tidak bisa cuma mimpi tanpa belajar. Tidak bisa cuma belajar tanpa tujuan.”

Keesokan harinya, setelah semua materi lomba selesai dilombakan, ketua panitia mengumumkan hasil perlombaan. Chelsy meraih juara 2 LKS Akuntansi. Jhoni meraih  juara 1 Lomba Tour Guiding, dengan presentasi tentang paket wisata berbasis laporan keuangan  ide yang ia dapat dari  Chelsy

Di panggung SMKN 1 Labuan Bajo, saat kepala sekolah menyebut nama mereka, mereka tidak bergandengan tangan. Mereka hanya saling mengangguk dari kejauhan, dengan berbagi  senyum yang bernafaskan cinta.  Cinta mereka bukan tentang nongkrong sampai lupa waktu. Cinta mereka adalah pengingat. Bahwa motivasi terbaik terkadang bukan dari buku, tapi dari seseorang yang membuatmu ingin membuka buku itu lagi. Dan dari atas bukit Sylvia di Labuan Bajo, mereka belajar satu hal: masa depan itu seperti mengelola hotel dan mengelola keuangan. Harus disiapkan dengan teliti, dilayani dengan hati, dan diperjuangkan setiap hari.

Kemenangan LKS  yang  mereka raih, tidak disambutnya dengan hura-hura atau gembira. Karena mereka menyadari kemenangan itu akan diikuti dengan kesedihan karena perpisahan. Perpisahan yang terjadi karena mengikuti Program PKL. 

Seluruh siswa kelas XII di SMKN 1 Labuan Bajo disebar seperti jaring nelayan menuju tempat PKL. Chelsy  ditempatkan di bagian finance sebuah hotel bintang empat di Jalan Soekarno Hatta. Gedungnya dingin ber-AC, semuanya pakai sistem. Hari pertama, ia disuruh menginput 200 faktur pembelian bahan makanan dapur. Tangannya kram. Seniornya yang keras dan tegas bilang, "Anak SMK jangan cuma pinter teori. Di sini salah satu angka, bos bisa rugi puluhan juta."  Chelsy  hampir menangis di toilet. Ia ingin chat Jhoni untuk menceritakan pengalaman pahit pertamanya, tapi ia tahan. Ia buka buku kecilnya  jurnal harian yang selalu ia bawa  dan menulis: Debit = Kepercayaan. Kredit = Tanggung jawab. Harus seimbang.

Di tempat lain, Jhoni  ditempatkan di resort mewah di Pulau Kanawa. Harus menyeberang pakai kapal kecil tiap pagi jam 5. Kerjaannya sebagai trainee Front Office dan Restaurant. Ia harus menghafal nama 40 tamu bule, berikut  makanannya, dan harus tetap senyum meski ombak membuat seragamnya basah.

Mereka jarang bertemu. Cinta sebatas LDR. Labuan Bajo tiba-tiba terasa luas sekali. Chat mereka hanya berisi: Udah makan? Lagi input data, nanti ya. Aku baru selesai briefing tamu dari Jerman.

Sampai suatu sore, Jhoni  tidak membalas chattingan Chelsy selama dua hari. Chelsy  panik. Ia  pinjam  motor temannya dan nekat ke pelabuhan, menunggu kapal jemputan karyawan resort itu pulang. Hujan rintik.

Jhoni  turun dari kapal dengan wajah lelah, sepatunya berlumpur. " Jhon!" Jhoni kaget. “Chel? Kamu ngapain di sini? Basah.”

"Kamu kenapa gak bales? Aku kira kamu tenggelam!" Jhoni  tertawa, tapi tawanya capek. 

“HP ku jatuh ke laut pas bantu tamu snorkeling. Baru ganti LCD tadi. Mahal. Gaji PKL ku habis.”

Chelsy  diam. Lalu ia merogoh tasnya. Ia menyodorkan amplop coklat kecil.

“Ini. Bonus dari hotel karena aku nemu selisih stok yang salah input kemarin. 300 ribu. Pakai dulu.”

Jhoni  menolak keras. “Gak bisa. Itu hak kamu.”

"Anggap aja ini investasi," kata Chelsy, meniru gaya guru Akuntansi mereka. “Nanti kalau kamu udah jadi General Manager, kamu ganti jadi 300 juta. Plus bunga.”

Mereka tertawa di pelabuhan yang bau solar itu. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, mereka merasa seimbang lagi. Bukan karena uangnya, tapi karena ada yang mau menunggu di dermaga.

PKL selesai. Mereka kembali ke sekolah dengan muka ceria. Sudah bisa bersama lagi Bebas dari beban dan tekanan bos selama PKL. Chelsy pulang dengan  kulit lebih putih, halus mulus karena kerja di ruangan berAC. Sementara Jhony pulang dengan kulit gelap dan kusam namun  mental lebih dewasa. 

Kelas XII semester akhir adalah neraka yang besar. Semester yang menguras pikiran dan tenaga oleh karena banyaknya kegiatan mempersiapkan ujian akhir sekolah. Tryout. Bimbingan karir. Orang tua yang mulai bertanya, “Habis lulus mau kemana?”

Ibu  Chelsy  yang warungnya sepi karena ada minimarket baru buka di dekatnya mulai sakit-sakitan.  Chelsy  mendapat tawaran: langsung kerja jadi kasir admin di hotel tempatnya PKL, gaji 2,2 juta. Tetap. Aman. Beasiswa Politeknik di Bali tiba-tiba terasa seperti mimpi yang terlalu mahal. Biaya kos, biaya hidup, jauh dari ibu.

Sementara Jhony  dapat tawaran magang lanjutan di Bali dari GM resort-nya. Jalur cepat. Kalau ia ambil, ia berangkat bulan depan. Tanpa UN, tanpa perpisahan.

Di ruang OSIS mereka bertengkar hebat.  "Kamu harus ambil, Jhon! Itu kesempatan emas! Gak semua anak Perhotelan dapat itu!" kata  Chelsy, matanya merah.

"Terus kamu? Kamu mau buang beasiswamu cuma buat jadi kasir? Kamu yang ajarin aku jangan takut angka, sekarang kamu takut sama masa depanmu sendiri?" Jhony  membalas, suaranya keras.

“Kamu gak ngerti! Ibuku butuh aku!”

“Aku ngerti! Makanya aku bilang kita harus berjuang bareng! Bukan nyerah bareng!”

Hening. Angin dari pelabuhan membawa bunyi klakson kapal.

Chelsy  menangis. Bukan karena marah, tapi karena  Jhony  benar. Dan Jhony  benar-benar takut kalau ia pergi, Chelsy  akan tetap di sini dan melupakannya.

Jhony  duduk, menghela napas. Ia membuka jurnal Chelsy  yang tertinggal di meja. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan  Chelsy  yang baru. Rencana B: Jika tidak dapat beasiswa, tetap kuliah online sambil kerja. Tabungan: 1,5 jt. Target: 6 bulan.

Jhony  tersenyum kecil. Gadis Akuntansi ini bahkan membuat rencana cadangan untuk patah hatinya.

"Chel," bisiknya pelan. “Kita bikin laporan rugi laba untuk mimpi kita ya?”

Chelsy  mendongak bingung.

“Rugi kalau kita nyerah sekarang. Laba kalau kita tunda senang-senangnya setahun. Aku ke Bali, kamu ke Bali. Beda kampus, tapi pulau yang sama. Kita LDR-an pulau. Gimana?”

Chelsy  memukul lengan  Jhony.  “LDR-an pulau apaan. Kamu kira romantis?”

"Tapi realistis," jawab Jhony.

Hari kelulusan SMKN 1 Labuan Bajo. Semua pakai seragam putih  abu. Chelsy  akhirnya memutuskan ia menolak kerja tetap itu. Ia mengambil tabungannya, Dibantu guru BK mengajukan beasiswa KIP Kuliah, dan ia LOLOS Politeknik Negeri Bali jurusan Akuntansi Manajerial. Tipis, tapi lolos. Jhony  juga berangkat ke Bali, ikut program Diploma 1 Perhotelan percepatan plus magang dibayar.

Malam sebelum mereka berangkat, dengan kapal yang berbeda, mereka kembali ke Bukit Sylvia. Tempat yang sama. Langit Labuan Bajo malam itu jernih. Lampu-lampu kapal bagan seperti kunang-kunang di atas laut.

Chelsy  membawa dua buku. Satu jurnal lamanya yang sudah penuh, dan satu jurnal baru yang masih kosong.

"Buat kamu," katanya, memberikan jurnal baru itu pada Jhony. Jhony  membukanya. Di halaman pertama, sudah ada tulisan Maya:

Buku Besar Kehidupan  Jhony:

Saldo Awal: 1 Tekad, 1 Doa, 1 Chelsy yang cerewet. Jangan sampai tidak balance ya, Pak Manager.

Jhony  tertawa, matanya berkaca-kaca. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah name tag trainee hotel yang sudah pudar, yang ia pakai saat PKL.

“Buat kamu. Biar kalau kamu jadi auditor hotel nanti, kamu ingat pernah punya murid paling bodoh dalam sejarah Akuntansi ”

Mereka tidak berjanji akan menikah. Mereka tidak berjanji akan selamanya. Anak SMK Labuan Bajo tahu, janji yang terlalu tinggi itu seperti overbudgeting  bahaya.

Mereka hanya berjanji satu hal.

“Setiap kita naik jabatan, atau naik semester, kita harus foto dengan background laut. Terus kirim ke satu sama lain. Biar kita ingat, kita berangkat dari laut yang sama.”

Kapal pertama berbunyi. Harus turun.

Mereka berjalan menuruni Bukit Sylvia beriringan, tidak bergandengan, tapi langkahnya sama.

Di bawah, Labuan Bajo tetap bising, tetap panas, tetap penuh debu dan mimpi.

Dan di atas bukit, gazebo sekolah,  mereka yang kosong akhirnya benar-benar kosong  menunggu dua anak SMK angkatan berikutnya yang butuh tempat untuk belajar debit kredit kehidupan.

Diskusi Pembaca

Komentar 0

Semua komentar pembaca ditampilkan pada halaman berita ini.

forum

Belum ada komentar. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.

Tulis Komentar

Email tidak akan dipublikasikan.